Archive | Interview

Imam Wijayanto - Jagoan Kuliner dari MM Jaksel

Posted on 19 March 2009 by sonny.sofjan

imam

IMAM WIJAYANTO, salah seorang member MM Jaksel, yang dalam waktu singkat telah memiliki bisnis dengan omzet ratusan juta per bulan. Hanya dalam waktu kurang dari 3 tahun bisnis kulinernya sudah membanjiri koceknya dengan rupiah yang luar biasa besar di usia yang masih 34 tahun

Berawal dari bisnis kecil-kecilan sejak kuliah di Fakultas Ekonomi Pemasaran, Unibraw, Malang. Itupun lebih disebabkan karena kiriman dari Jakarta gak pernah cukup, sehingga perlu kreatif menjalani hari-hari kuliah. Bergaul dengan mahasiswa yang juga senang berbisnis membuat kuliah Imam menjadi agak terlambat selesainya. Tapi tidak mengapa, karena toh akhirnya bisa diselesaikan juga kuliahnya.

Lulus kuliah, seperti lulusan perguruan tinggi kebanyakan, Imam bekerja di Kompas Gramedia dengan gaji yang pas-pasan. Empat tahun bekerja, mulai dirasakan uang yang diperolehnya ditabung namun tidak jadi apa-apa. Takdir berbicara lain, akibat kesenangannya dengan cup corn (jagung manis dari daily fresh), beliau terdorong untuk mengetahui lebih jauh akan bisnis ini. Setelah mengetahui bahwa bisnis ini di franchisekan, maka beliau segara membulatkan hati untuk mengambil franchise ini. Perjalanan mencari lokasi pun dimulai. Dari satu mall ke mall lain di Jakarta, tidak kunjung diperoleh tempat yang bagus berjualan, Namun Imam tidak putus asa. Pada suatu saat, tercetus ide untuk mencari lokasi di mall di daerah Bogor. Gayung bersambut, sesampai di Bogor ternyata ada salah satu mall di kota tersebut yang mempunyai lokasi cukup strategis dengan skema yang juga sangat favorable. Tanpa pikir panjang, Imam segera mengambil lokasi tersebut….dan mulailah usaha Imam yang pertama di kota Bogor. Begitu sukacitanya sampai-sampai jarak Jakarta-Bogor tidak terasa jauhnya. Waktu terus berjalan, dan usaha ini mulai menampakkan keuntungannya.

Namun anehnya, pada saat bisnis ini sedang di atas angin, Imam justru menjualnya kepada orang lain. Apa pasal…? Ternyata Imam memiliki mimpi yang lebih besar lagi (khas entrepreneur nih…. selalu ingin yang lebih baik). Beliau ingin memiliki usaha Bakso, oleh karena itu beliau ingin menjual usahanya yang satu ini untuk membiayai bisnis baksonya. Gak tangung-tanggung, Bakso Malang Cak Man jadi incarannya walau biaya yang dibutuhkan lumayan besar sampai Rp 150 juta tahun 2005. Namun yang namanya entrepreneur, ACTION adalah nomor satu. Singkat cerita, Bakso Malang Cak Man pun akhirnya bisa menjadi miliknya. Franchise Bakso Malang Cak Man yang pertama di Jakarta saat itu, benar-benar bukan hutan. Bertempat di Plaza Semanggi (waktu itu masih baru), usaha ini “berdarah-darah” dulu di awalnya. Dana yang terkumpul tiap bulannya hanya bisa untuk membayar gaji karyawan saja. Namun memang dasarnya entrepreneur, kalau menghadapi kesulitan pantang menyerah, Imam terus konsisten merawat usahanya dengan penuh kasih sayang. Usaha terus berjalan dengan seribu satu rintangan. Disinilah mental entrepreneur itu muncul, saat kepepet. The Power of Kepepet kata orang. Usaha masih susah, karyawan menipu tetapi semua dijalani Imam dengan sabar. Sampai titik terang itupun datang, Plaza Semanggi perlahan tapi pasti traffic nya bertambah, omzet Bakso Malang Cak Man pun mulai meningkat sampai hari ini sudah mencapai rata-rata Rp 5 juta perhari…. Dahsyat. Sekarang Imam sedang memetik manisnya usaha yang telah dirintis dengan “berdarah-darah” beberapa tahun yang lalu

Melihat usaha yang sukses di Plaza Semanggi, Bakso Malang Cak Man yang kedua pun segera dibuka di Blok M Plaza yang sampai saat ini masih beroperasi dengan baik dan terus mencetak untung. Omzet per hari sudah mencapai Rp 2 jutaan. Wah senengnya lihat salah satu member MM Jaksel sudah sukses seperti ini. Hitung aja deh berapa pundi-pundi Imam dari dua resto baksonya ini.

Apakah Imam sudah merasa sukses dengan pencapaiannya saat ini..?? Ternyata belum. This is not the end of story…. Petualangan kuliner terus berlanjut.

Maret 2008, Imam kembali “tes nyali” buka surabi Arab (makanan khas Bandung) di daerah Bogor. Dan seperti biasa, berdarah-darah dulu. Omzet sehari Rp 50 ribu aja sudah bersyukur. Otak kembali berputar, gimana caranya supaya bisnis ini bisa “running”. Akhirnya dibuat strategi promosi dengan cara discount dan disebar ke kampus IPB. Syaratnya kalau mau dapet discount, brosur asli harus dibawa. Nah dari sini mulai terlihat ada hasilnya walau belum terlalu signifikan. Tapi yang pasti traffic pelanggan mulai naik.

Nah, disinilah ide brilliant Imam muncul. Surabi yang notabene makanan tradisional dikemas menjadi makanan yang “fungky” dengan ditambahkan topping-topping yang lezat seperti keju, mayonnaise dll layaknya pizza mini. Setelah produk line ditambah, media pun digarap. Gak main-main, press release yang “heboh” segera dibuat dan dikirim ke seluruh media. Efeknya luar biasa, semua media mulai meliput sampai ke TV segala. Karena produk makanannya memang unik sekali, makanan tradisional dikombinasi dengan sesuatu yang modern. Hebat memang Imam ini…..

Saat ini Surabi Arab sudah menjadi salah satu makanan yang paling dicari di Bogor, belinya saja antri. Outlet buka hanya sore sampai malam, dari jam 16.00 sampai jam 10.00 malam dan selalu ludes. Omzet saat ini sudah sekitar Rp 1.6 juta/hari hanya dengan jam buka 6 jam saja per hari.. Luar biasa….

Saat ini Iman sedang mengembangkan bisnis baru yaitu desain grafis, dan khabarnya mulai menuai omzet lagi. Wah, apa sih rahasianya, sampai semua bisnisnya sukses…??

Imam mengatakan bahwa dalam berbisnis itu jangan mencari UANG, carilah bisnis yang PASSION Anda terlibat didalamnya. Jadi motivasinya jauh di atas uang. Sehingga kalau terjadi bisnis kita sedang drop, maka kita tetap tegar dan konsisten mengurusnya. Kalau motivasi uang biasanya ikut-ikutan. Kalau ada bisnis yang lagi untung, ramai-ramai berpindah ke bisnis itu. Seprti gak punya identitas diri, kira-kira seperti itulah….

Kita harus banyak belajar dari pengalaman Imam dalam memulai dan mengembangkan bisnisnya. Jangan ragu-ragu untuk kontak beliau, karena beliau sangat terbuka dan ringan tangan untuk membantu teman-teman pebisnis yan masih pemula.

Let’s GO TRIPLE…..!!

Penulis

Sonny B Sofjan

www.sonnysofjan.com

www.gwguyur.com|www.brillaint-expert.com|www.pillarbusiness.com

Comments (4)

Jimmy Sang Semut yang Ahli Aikido

Posted on 24 February 2009 by Tjarli

Interview by Tjarli Pixethic

aikidoKeturunan Padang yang dibesarkan di lingkungan pengusaha, lulusan HI Unpad Bandung ini, Jimmy Harry Warnery akrab dipanggil Jimmy membuat dirinya lebih memilih menjadi seorang “Tangan Di Atas” ketimbang bekerja sebagai pegawai berdasi di lingkungan kantor atau bekerja sebagai diplomat.

Keinginan yang kuat untuk menjadi pengusaha, dipicu setelah ayahnya meninggal. Bersama adiknya, ia mempertahankan bisnis ayahnya di Palembang hingga bisnisnya dapat dikelola dengan baik oleh adiknya, kemudian ia merantau ke Jakarta. Sebelum menjadi seorang TDA, Jimmy pernah bekerja di perusahaan marketing communication, namun ia tidak kerasan di lingkungan kantor sebagai pegawai.

Berbekal pengalaman dari perusahaan tempat ia bekerja dulu, maka mulailah Jimmy bertekad membuka usaha online sejak Januari 2009 yang dinamai semutsemut.com. Cita-citanya adalah menjadikan semut.semut.com menjadi perusahaan besar seperti amazon.com.

Barang-barang yang dijual melalui toko online ini cukup beragam. Ada perlengkapan olahraga, saat ini sudah dijual alat-alat untuk Aikido. Ada juga perlengkapan shalat, mukena yang memiliki kualitas sekelas Mall Pasaraya yang harganya mencapai Rp 2 juta hingga Rp 3 juta, namun disini ia menjualnya dengan harga murah, tidak lebih dari Rp. 1 juta. Selain mukena ada juga jilbab. Di toko online semut.semut.com ini Ia menjual juga berbagai jenis buku seperti buku anak-anak, bahasa, desain interior, motivasi, entrepreneur/bisnis, fashion, buku Islam, komunikasi, life style, masak, novel, buku wanita, politik dan sejarah.

Jimmy sebagai pemegang sabuk hitam Aikido, menjual secara online perlengkapan Aikido yang memang kualitasnya sangat bisa diandalkan. Seperti penuturannya, Aikido dibawa ke Indonesia salah satunya oleh Ir. Mansur Idham dan dua orang lainnya Ir. Josef Izaak Poetiraj dan Ir. Tamsu Ibrahim sekitar akhir tahun 1969, mereka adalah mahasiswa yang belajar di Jepang dan kembali ke Indonesia.

Jimmy menjual Hakama, celana rok hitam buatan Ibu Seiko Mansur (isteri Ir. Mansur Idham) yang sudah 40 tahunan menetap di Indonesia. Pembuatan Hakama yang berkualitas baik memang sulit, untuk itulah ia menjual Hakama dari pembuatnya yang memang ahli. Selain Hakama juga ada Do Gi, baju latihan buatan Ibu Seiko Mansur dan juga import. Sedangkan Boken, pedang kayu ia bermitra dengan dengan pengrajin Boken yang berkualitas tinggi seperti yang ada di Jepang. Jangan khawatir dengan kualitas Boken di semutsemut.com jika tidak sesuai atau cacat, maka Boken bisa ditukar atau diganti dengan yang lebih sesuai.

Dalam waktu dekat, Jimmy berencana untuk membuka Dojo, menurutnya olahraga yang tidak destruktif dan bersifat defensif ini sangat dibutuhkan oleh kalangan semua umur. Olahraga ini seperti Tai Chi, namun lebih dinamis lagi. Olah raga ini menyatukan antara hati, pikiran dan fisik menjadi sebuah seni beladiri yang indah namun dapat juga sebagai alat bertarung melawan penyerang. Aikido sangat terkenal di industri perfilman setelah Stevan Seagal, sang aktor yang mempopulerkan Aikido di dalam aksi laganya di Hollywood.

Selain itu ia akan mengembangkan semutsemut.com ke penjualan CD/VCD lagu, dan menambah penjualan online untuk perlengkapan bulu tangkis.

Ia juga menyampaikan kegembiraannya setelah bergabung dengan Mastermind Jakarta Selatan.  Jimmy dan team-nya memberikan kontribusi yang baik dengan mendesain logo Mastermind Jaksel dan kaos yang digunakan di Milad 3 TDA.  Ia  pun senang bisa berbagi pengalaman dan mendapatkan ide-ide baru untuk pengembangan bisnisnya. Harapannya adalah bisa tetap bersilaturahim dengan lebih banyak orang lagi di komunitas TDA sehingga peluang dan kesempatan akan terbuka lebar, sehingga ia bisa memberi manfaat bagi banyak orang.

Comments (2)


Yuswohady

www.wartaekonomi.co.id
Minggu lalu saya bertemu Mas Iim Rusyamsi, Rosihan, dan Mbak Inez. Ketiganya dari komunitas Tangan Di Atas (TDA). Lama ngobrol dengan mereka, banyak pelajaran yang saya dapat. Cerita mereka mengenai bagaimana TDA “beroperasi” membuat saya takjub. Takjub, karena model komunitas yang saya bayangkan selama ini, yaitu apa yang saya sebut “value-creating community”, berlangsung dalam format [...]

Lebih lanjut »

Sebelumnya :


Advertise Here
Advertise Here
Advertise Here