Archive | Business Startup

Business start-up tips: Stop berbisnis “kata orang”

Posted on 12 January 2009 by admin

Penulis : Hasan Basri
(TDA Keuangan, Kesekretariatan, Membership, Manajemen milis )

- pelajari “how to”- dan bukan “why”-nya.-

pelajari "how to" untuk mendapatkan peluang bisnis

pelajari

Karena dibesarkan di lingkungan “jawa” serta budaya yang ditanamkan di sekolah, sejak kecil ukuran kepantasan perilaku diukur dari “asumsi” yang dibuat sendiri tentang ” apa kata orang nanti”.

Butuh waktu lama, bagi saya untuk keluar dari ” kotak korek api” buatan sendiri ini.

Demikian juga dalam berbisnis,paradigma awal selalu: apakah ini pantas dilihat orang lain?bukan pada intinya: apakah ada cashflow..Tidak heran, secepat usaha saya untuk memulai, secepat itu pula berhenti, karena bisnisnya ” memalukan” saya di depan orang lain…

Ada “bahaya” nya juga jika terlalu terkesima dengan orang sukses.

Secara budaya, langsung bisa diterima karena orang lain juga pasti mengaguminya.
Namun, belum tentu bisnis mereka cocok dan menjadi jalan kita..( umumnya kita hanya mengetahui puncak gunung es-nya, di bawahnya pasti penuh dengan kisah2 perjuangan).

Berbisnis adalah masalah Cash Flow.

Stop berbisnis karena asumsi “kata orang”. Untuk mempercepat proses pembelajaran bisnis, jalan terbaik dan tercepat adalah magang kepada pebisnis sukses, pelajari “how to”- dan bukan
“why”-nya.

Semoga bermanfaat dan mohon maaf jika tidak berkenan.

(artikel lain bisa di-klik di http://hasanbasri.com )

Comments (0)

Tags: , ,

PERBEDAAN PERSEPSI

Posted on 19 December 2008 by admin

(writer unknown)

Ada seorang ayah yang menjelang ajalnya di hadapan sang Istri berpesan DUA hal kepada 2 anak laki-lakinya :

- Pertama : Jangan pernah menagih hutang kepada orang yg berhutang kepadamu.
- Kedua : Jika pergi ke toko jangan sampai mukanya terkena sinar matahari.

Waktu berjalan terus. Dan kenyataan terjadi, bahwa beberapa tahun setelah ayahnya meninggal anak yang sulung bertambah kaya sedang yang bungsu menjadi semakin miskin.

Pada suatu hari sang Ibu menanyakan hal itu kepada mereka.

Jawab anak yang bungsu :

“Ini karena saya mengikuti pesan ayah. Ayah berpesan bahwa saya tidak boleh menagih hutang kepada orang yang berhutang kepadaku, akibatnya modalku susut karena orang yang berhutang kepadaku tidak membayar sementara aku tidak boleh menagih”.
“Juga Ayah berpesan supaya kalau saya pergi atau p ulang dari rumah ke toko dan sebaliknya tidak boleh terkena sinar matahari. Akibatnya saya harus naik becak atau andong, padahal sebetulnya saya bisa berjalan kaki saja, tetapi karena pesan ayah itu, akibatnya pengeluaranku bertambah banyak”.

Kepada anak yang sulung yang bertambah kaya, sang Ibu pun bertanya hal yang sama.
Jawab anak sulung :

“Ini semua adalah karena saya mentaati pesan ayah. Karena Ayah berpesan supaya saya tidak menagih kepada orang yang berhutang kepada saya, maka saya tidak pernah menghutangkan sehingga dengan demikian modal
tidak susut”.

“Juga Ayah berpesan agar supaya jika saya berangkat ke toko atau pulang dari toko tidak boleh terkena sinar matahari, maka saya berangkat ke toko sebelum matahari terbit dan pulang sesudah matahari terbenam.
Karenanya toko saya buka sebelum toko lain buka, dan tutup jauh sesudah toko yang lain tutup.”

“Sehingga karena kebiasaan itu, orang menjadi tahu dan tokoku menjadi laris, karena mempunyai jam kerja lebih lama”.

MORAL CERITA :
Kisah diatas menunjukkan bagaimana sebuah kalimat di tanggapi dengan presepsi yang berbeda. Jika kita melihat dengan positive attitude maka segala kesulitan sebenarnya adalah sebuah perjalanan membuat kita sukses tetapi kita bisa juga terhanyut dengan adanya kesulitan karena rutinitas kita… pilihan ada di tangan anda.

‘Berusahalah melakukan hal biasa dengan cara ya ng luar biasa’

irwan rahman the chapter

Comments (0)


Yuswohady

www.wartaekonomi.co.id
Minggu lalu saya bertemu Mas Iim Rusyamsi, Rosihan, dan Mbak Inez. Ketiganya dari komunitas Tangan Di Atas (TDA). Lama ngobrol dengan mereka, banyak pelajaran yang saya dapat. Cerita mereka mengenai bagaimana TDA “beroperasi” membuat saya takjub. Takjub, karena model komunitas yang saya bayangkan selama ini, yaitu apa yang saya sebut “value-creating community”, berlangsung dalam format [...]

Lebih lanjut »

Sebelumnya :


Advertise Here
Advertise Here
Advertise Here