Archive | Marketing Corner

TDA dan “Era Sejuta Bill Gates”

Posted on 20 April 2009 by admin

www.wartaekonomi.co.id

Minggu lalu saya bertemu Mas Iim Rusyamsi, Rosihan, dan Mbak Inez. Ketiganya dari komunitas Tangan Di Atas (TDA). Lama ngobrol dengan mereka, banyak pelajaran yang saya dapat. Cerita mereka mengenai bagaimana TDA “beroperasi” membuat saya takjub. Takjub, karena model komunitas yang saya bayangkan selama ini, yaitu apa yang saya sebut “value-creating community”, berlangsung dalam format sederhana di komunitas yang baru berusia tiga tahun ini.

Sebelumnya saya membayangkan value-creating community ini hanya ada pada kasus-kasus hebat, seperti komunitas Linux, komunitas Mozilla Firefox, komunitas programmer amatir Nokia, komunitas InnoCentive, komunitas Wikipedia, atau komunitas Facebook. Namun, rupanya cikal bakal komunitas pencipta nilai ini sudah ada di negeri ini. Saya pun berharap komunitas seperti TDA ini bisa menjadi model terbentuknya komunitas-komunitas sejenis secara massal di negeri ini.

TDA adalah komunitas (offline-online) yang menghimpun orang-orang yang mau dan sudah menjadi entrepreneur. Dalam visi-misinya, komunitas ini memiliki tujuan mulia: mencetak 10.000 pengusaha miliarder sampai dengan tahun 2018. Untuk mewujudkannya, mereka menggunakan medium komunitas. Mengapa? Sebab, mereka yakin bahwa dengan berbagi, saling mendukung, memecahkan persoalan bersama, dan bersinergi satu sama lain, persoalan seberat apa pun akan mudah terpecahkan.

Dalam waktu tiga tahun, jumlah anggota TDA berkembang pesat hingga mencapai sekitar 5.000 orang yang tersebar di berbagai kota di Tanah Air. Untuk memfasilitasi para anggotanya, komunitas ini telah menjalankan beragam kegiatan produktif, mulai dari seminar, workshop, pameran, diskusi online, webinar, business coach, buka kios bersama, leverage game, corporate social responsibility (CSR), kelompok-kelompok diskusi Master-mind, dan sebagainya. Semua kegiatan itu dijalankan untuk memfasilitasi dan mengantarkan anggota menjadi entrepreneur yang sukses.

Value-Creating Community

TDA saya sebut value-creating community karena sekelompok orang yang punya minat, keinginan, dan visi yang sama bergabung, berkomunikasi, berinteraksi, berkolaborasi, berdiskusi, saling belajar, saling bertukar informasi, saling memberi ide, dan saling memberi solusi atas persoalan yang mereka hadapi. Berbeda dengan komunitas-komunitas yang ada sebelumnya, komunitas ini memanfaatkan web 2.0 tools dan media sosial, seperti blog, milis, Facebook, Multiply, Yahoogroups, YM, dan lain lain, untuk memfasilitasi aktivitasnya.

Saya kira mass collaboration dalam format yang sederhana terjadi di dalam komunitas ini.

Mereka membentuk komunitas untuk mengambil manfaat dari apa yang oleh James Surowiecki disebut ”wisdom of crowd”. Mereka meyakini prinsip dasar bahwa ”WE are smarter than ME”: bahwa sesuatu yang dikerjakan secara bersama-sama pasti hasilnya jauh lebih bagus, lebih sempurna, lebih hebat, lebih solid, lebih cepat, lebih efisien, lebih produktif. ”It’s the power of crowd”. Mereka melakukan apa yang disebut kolaborasi secara kolektif di antara anggota untuk menciptakan nilai. Istilah kerennya: ”conversation and mass collaboration for value creation”.

Menariknya, proses komunikasi dan kolaborasi itu berlangsung secara horizontal dan natural. Horizontal, karena di dalam komunitas itu tak ada sebuah otoritas formal yang mengontrol kerja dari komunitas ini. Kalaupun di situ ada Mas Iim dan timnya, itu lebih bersifat memfasilitasi, bukan mengatur, apalagi menginstruksikan dan mengontrol kerja dari komunitas ini.

Di sini tak ada kooptasi dari Kementerian Negara Koperasi dan UKM; tidak ada instruksi dari Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga; tak ada dana Inpres. Mereka juga tidak menjual proposal ke World Bank atau IMF. Mereka bukanlah komunitas malas yang menunggu datangnya subsidi dan bantuan dari pemerintah atau lembaga donor. Semua kebutuhan dana dicukupi sendiri secara mandiri, kalau perlu pakai saweran. Itu pula sebabnya UKM-UKM binaan pemerintah atau LSM selalu loyo, tak pernah bisa sesolid mereka. Mengapa? Sebab, mindset dan landasan berpikir komunitas yang dibangun pemerintah dan LSM berbeda 180 derajat dengan komunitas ini.

Tiga Miliar Bill Gates

Ngobrol panjang dengan Mas Iim, Mas Rosihan, dan Mbak Inez tentang TDA mengingatkan saya tentang buku powerful yang ditulis Thomas Friedman, The World Is Flat. Dalam buku itu, Friedman memprediksi munculnya ”zaman keemasan” di mana akan lahir tiga miliar individu dari India, Cina, Rusia, dan beberapa negara industri baru seperti Brasil, Malaysia, hingga Vietnam, yang saling berkolaborasi sekaligus berkompetisi secara virtual-global untuk menghasilkan inovasi-inovasi dan value creation dalam kuantitas dan kualitas yang tak terbayangkan dalam sejarah umat manusia.

Tiga miliar individu itu akan merupakan spesialis-spesialis yang saling berinteraksi, saling berbagi pengetahuan, saling berkolaborasi kerja satu sama lain untuk menghasilkan inovasi-inovasi besar sekelas Linux atau membentuk perusahaan hebat sekelas eBay atau Google. Ketika tiga miliar individu itu memiliki akses kepada perangkat-perangkat kolaborasi (tools of collaboration) berbasis internet, maka mereka akan menjadi spesialis yang siap untuk ”plug & play” di dalam jaringan kerja virtual-global yang sangat efisien, seamless, self-governed, dan sangat powerful.

Oleh karena energi dan potensi individu terlepaskan (unleash) dengan adanya mass collaboration, maka dunia nantinya akan mampu memproduksi orang hebat macam Bill Gates atau Steve Jobs bukan hanya dalam jumlah puluhan atau ratusan, melainkan bisa mencapai miliaran. Friedman bahkan sudah menyebutkan angka pastinya: 3 miliar. Miliaran individu hebat akan menghasilkan jutaan inovasi hebat, jutaan teknologi hebat, jutaan perusahaan hebat, jutaan organisasi hebat, alangkah indahnya.

Terus terang, saat membaca hipotesis itu, saya bergumam, Friedman pasti sedang ngelantur. Namun, begitu seminggu lalu saya mendengar cerita Mas Iim, Mas Rosihan, dan Mbak Inez, saya jadi takjub: ”Rupanya apa yang menjadi visi Friedman bukanlah omong kosong.”

Seperti Friedman, saya bermimpi (”I have a dream …,” kata Martin Luther King), kehadiran TDA dan ”TDA-TDA lain” yang bakal menyusul akan mampu melahirkan sejuta entrepreneur hebat sekelas Bill Gates di Indonesia. Saya tidak muluk-muluk seperti Friedman. Tak usah ”3 miliar”, didiskon cuma jadi ”sejuta” saja sudah alhamdulillah. Jadi, dengan mass collaboration, kini kita sedang menyongsong sebuah era keemasan di mana akan lahir sejuta Bill Gates di negeri ini. Saya menyebut era itu ”ERA SEJUTA BILL GATES”.

Mari kita songsong: ”ERA SEJUTA BILL GATES”.

Oleh YUSWOHADY

Penulis adalah Direktur Eksekutif Markplus Institute of Marketing (MIM) dan  Penulis Buku.

Comments (1)

“Facebookaholic”

Posted on 02 April 2009 by sonny.sofjan

By Yuswohady

Facebook sudah seperti layaknya narkoba. Awalnya penasaran, karena selalu menjadi bahan pergunjingan teman di kantin, sela-sela meeting, atau saat SMSan. Lalu Anda iseng mencobanya dengan membikin account. Lalu Anda sambil lalu senang menulis status, mengubah-ubah profile foto, mencek status temen, atau melakukan chatting dan menulis wall.

Begitu keasyikan, Anda pun mulai merasa banyak waktu Anda terambil untuk Facebooking. Facebook pun menjadi peringkat satu dalam list teman dekat Anda mengalahkan pacar, bahkan istri/suami (juga selingkuhan…hehehe). Dan pada akhirnya sampai pada suatu titik dimana Anda tak berdaya lagi untuk keluar dari pengaruh “medan magnet” Facebook.

Begitu banyak waktu Anda habiskan untuk “fly” (tripping juga kalee…) di dunia Facebook. Kemanapun dan dimanapun otak Anda terus memikirkannya. Anda seperti berada dalam pengaruh “guna-guna” Facebook. Sejam saja tak login, rasanya mau kiamat, Anda menjadi begitu resah, tidak konsen saat meeting dengan rekan kerja di kantor.

Anda juga dihantui “kangen luar biasa” ketika sesaat saja tidak bertemu, bercengkrama, dan berdiskusi dengan teman-teman virtual Anda di Facebook. Hidup Anda menjadi hampa ketika Anda tidak berada di titik fokus sorotan teman-teman Facebook Anda (well… “celebrity syndrome” or “narcissistic disease”).

Inilah suatu titik dimana Anda terjangkit penyakit yang cool abis: Facebookaholic.

Mau tahu Anda terjangkit Facebookaholic? Ikuti link ini: Are You Facebook Addicted?

Penyakit ini ganas minta ampun. Menular dan menyebar 1000 kali lebih ganas dari HIV dan DB. Penyebarannya merata di seluruh jengkal bumi ini, tak kenal negara miskin-kaya, berkembang-maju, berkulit hitam-putih, bermata sipit-belok.

Kalau untuk melawan HIV dan DB para pakar kedokteran bekerja siang malam untuk menciptakan obat anti-virus HIV dan obat anti-DB, maka kini belum sekalipun terdengar obat anti-virus Facebookaholic.

Kalau selama ini dikenal banyak rumah sakit dan klinik dibangun untuk pemuihan penderita dari ketergantungan narkoba, maka sekalipun saya belum pernah mendengar klinik untuk membantu penderita keluar dari jerat ketergantungan Facebookaholic ini.

Wah… gawaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaat!!!!!!!!!!!!

Comments (2)

Horizontal Marketing = “Bola Liar”

Posted on 27 March 2009 by admin

By Yuswohady

Beberapa hari lalu (16/3), seorang rekan FB Cahyadi Tan menulis note berjudul: “Kelemahan iPhone 3G - Baca Dulu Sebelum Anda Memutuskan Untuk Membeli!“, berikut link-nya: http://www.facebook.com/wall.php?id=1572196055&banter_id=1247995386&show_all#/note.php?note_id=139658975460&id=1060552583&index=3

Note itu dia tulis berdasarkan tulisan yang diposting temannya di FB juga, isinya mengenai kelemahan-kelemahan dasar iPhone 3G yang dilaunch di tanah air 20 Maret lalu (Diusung Telkomsel melalui bundling, kini billboard-nya ada di mana-mana, di seluruh penjuru Jakarta). Mas Cahyadi mengidentifikasi ada 15 item kelemahan iPhone 3G yang menurut saya sangat rinci berdasarkan survei kecil ke berbagai sumber. Saking banyaknya, komen saya terhadap note itu singkat saja: “waduh… banyak buanget bolong-bolongnya iPhone 3G”

Saya tak akan membahas 15 kelemahan iPhone di atas, yang ingin saya cermati adalah kenyataan bahwa word of mouth (WOM) melalui media sosial (yes… “CROWD“) menjalar bak wabah kolera tanpa bisa dikontrol oleh siapapun. Kalau WOM itu bagus tentu saja ok, tapi kalau WOM itu berdampak jelek ke brand, maka dampak kerugiannya bakal berlipat-lipat dan sulit dipadamkan.

Saya yakin mas Cahyadi (dan temannya), tidak dibayar oleh siapapun, dan dia menulis dengan ketajaman dan kejelian analisis, dengan dukungan riset yang mumpuni. Sayajuga yakin mas Cahyadi menullis tanpa pretensi apapun, itu tercermin di dalam tulisan. Sehingga tulisan itu menjadi sumber informasi yang kredibel, netral (nggak kayak iklan), dan jujur. INGAT: sekali omongan konsumen memiliki daya mempengaruhi seribu kali lebih hebat dari omongan salesman atau iklan.

Ada dua pelajaran yang saya dapat dari sini. Pertama, bahwa WOM (dalam hal ini “bad mouth”) sifatnya seperti “bola liar” yang sulit dikontrol oleh pemilik brand. Saya tidak tahu apakah pihak Telkomsel atau Apple tahu tulisan mas Cahyadi. Dan kalau tahu pun, mereka akan sulit mengontrol dampak negatifnya ke brand.

Kedua, brand tidak bisa bersembunyi di balik keindahan iklan atau kepiawaian komunikasi pemasaran. Karena konsumen expert seperti mas Cahyadi akan tahu “jeroan” isi brand tersebut. Artinya apa, TRANSPARANSI dan TRUST menjadi alat terpenting membangun brand, bukan keindahan iklan dan kepintaran salesman menghipnotis konsumen.

Horizontal marketing ternyata nggak gampang ya???….

Comments (2)

WE Are Smarter Than ME

Posted on 07 March 2009 by sonny.sofjan

Encyclopedia Britannica ditulis selama lebih dari 250 tahun, sementara Wikipedia baru berusia kurang dari 10 tahun (dirilis tahun 2001). Tapi coba kita lihat statistik berikut:

Wikipedia berisi 1,74 miliar kata dalam 9,25 juta artikel, mencakup 250 versi bahasa termasuk bahasa Indonesia. Sementara Encyclopedia Britannica jumlah katanya cuma SEPERDUALIMA (yes…1/25) dari jumlah kata yang dimiliki Wikipedia edisi bahasa Inggris (Britannica hanya memiliki satu versi yaitu versi Bahasa Inggris).

Bagaimana keajaiban ini bisa terjadi?
Britannica ditulis oleh sekitar 100 orang full-time editors dan sekitar 4000 kontributor.
Wikipedia sebaliknya, ditulis dengan pendekatan open source (tepatnya “crowdsource”) oleh puluhan ribu, ratusan ribu, atau bahkan mungkin jutaan volunter dari seluruh dunia, karena siapapun memang diundang untuk berkontribusi di Wikipedia dengan bantuan web 2.0 tools yang disebut: wiki.

Berbeda dengan Britannica, tulisan di Wikipedia “dijaga” kualitas dan kebenarannya oleh komunitas Wikipedia yang saling berkerja sama dalam format kolaborasi terbuka (open collaboration). Komunitas ini pula yang terus memperbaiki tulisan-tulisan tersebut sehingga semakin baik dan sempurna. Kata para Wikipedians: “open collaboration improves articles over time”. Komunitas ini layaknya komunitas Mac atau komunitas Harley-Davidson, sangat fanatik (“cult-like”) terhadap Wikipedia.

Satu hal perlu diingat,
terwujudnya Wikipedia meyakinkan kita semua bahwa:
WE are smarter than ME!!!
WE are faster than ME!!!
WE are more powerful than ME!!!

Atau dalam kasus Wikipedia: “MILLIONS people are more powerful than HUNDREDS.”

It’s the power COLLECTIVE INTELLIGENCE!!!

Menunjuk kasus Wikipedia, saya semakin optimis bahwa pada akhirnya…
Linux will BEAT Windows!
Mozilla Firefox will BEAT Internet Explorer!
Flickr will BEAT Getty Images!
Citizen Journalism will BEAT mainstream media!

Apakah Anda SEOPTIMIS saya?

Comments (1)

CROWD “Marketing Becomes Horizontal” - The 11 Manifesto

Posted on 23 February 2009 by admin

crowd

* Ini adalah tulisan berseri saya mengenai E = wMC2 di majalah Warta Ekonomi bulan Juni 2008

Selama 3 bulan terakhir ini, saya dibikin mabuk kepayang oleh rumus yang saya jadikan judul tulisan ini. Kemanapun saya pergi: rapat di kantor, presentasi di klien, mengajar di kelas, seminar di kampus, bahkan jalan-jalan di mal hari minggu pun rumus tersebut berputar-putar kencang di atas kepala saya. Sampai-sampai makan saja nggak enak, tidur pun nggak nyenyak, karena otak saya terisi penuh dengan rumus itu. Pokoknya seperti ABG mabuk cinta rasanya.

Menariknya, semakin rumus itu dipikir-pikir semakin kelihatan keindahan dan kemolekannya. Tak hanya itu, saya sudah seminarkan rumus itu di empat kota Jakarta, Bandung, Semarang, dan Medan. Dan dari banyak berdialog dan berdiskusi dengan peserta seminar makin kelihatan indahnya rumus tersebut. Harap Anda tahu tulisan ini saya bikin di atas pesawat GIA 183 dalam perjalanan dari Medan ke Surabaya, di mana malamnya saya bicara di seminar kelima safari saya dengan judul rumus tersebut.

Kenapa indah? Di era internet yang kini dikenal sebagai era ”Web 2.0”rumus tersebut makin terbukti kebenarannya Di era kian maraknya social network dan social media (Friendster, Yahoogroups, YouTube, Facebook, MySpace, dsb) rumus tersebut semakin membuktikan kebenarannya. Anda pasti penasaran. Coba kita kupas pelan-pelan rumus tersebut. Sebelumnya, saya sengaja plesetkan rumus tersebut dari rumus legendaris milik Pak Albert Einstein, agar Anda yang membacanya tak lupa seumur hidup.

E dalam rumus tersebut saya sebut sebagai “Energi marketing yang maha dahsyat” sedahsyat bom nuklir. Kemudian wM adalah = word of mouth (mouse) atau buzz, yaitu promosi atau pemasaran dari mulut ke mulut baik secara fisik maupun berbasis internet. Dalam rumus ini, makna wM tak hanya menyangkut gosip-gosip konsumen mengenai produk kita, tapi secara lebih luas dan fundamental adalah rekomendasi atau referal dari satu konsumen ke konsumen yang lain. Sementara C2 atau (C x C) adalah: C pertama adalah “offline customer Community”; dan C kedua adalah “online customer Community”.

Lalu apa artinya rumus rekaan saya tersebut? Artinya, energi marketing sedahsyat bom nuklir akan Anda dapatkan jika Anda mampu menggabung dan menyinergikan dua elemen penting pemasaran masa depan yaitu promosi dari mulut ke mulut dan komunitas yang anda bangun dan fasilitasi. Kalau Anda mampu menyebarkan buzz mengenai produk dan layanan Anda, dan buzz itu Anda ”kembangbiakkan” di dalam habitat yang namanya komunitas, maka pasti Anda akan mampu menciptakan energi marketing yang demikian dahsyaaaat!!!

Bagaimana caranya? Untuk menterjemahkan rumus tersebut ke dataran praktis-bisnis, saya mencoba menyusun 10 Manifesto yang berisi prinsip-prinsip pemasaran yang bisa Anda pakai dan terapkan. Saya sebut prinsip-prinsp tersebut sebagai: ”The 11 Manifesto of Customer to Customer (C2C) Marketing”. Kenapa C2C? Karena kalau Anda menerapkan rumus tersebut maka konsumen lah yang memegang peran sentral dalam proses pemasaran Anda melalui pendekatan yang ”peer to peer” atau pendekatan marketing yang bersifat horisontal. Berikut ini saya akan uraikan 10 manifesto tersebut secara sangat ringkat, urian ditel dari masing-masing kesepuluh manifesto tersebut akan saya uraikan satu persatu dalam kolom ini di minggu-minggu berikutnya.

Manifesto #1:

Web 2.0. Has Unleashed the Extraordinary Power of NETWORKED Customers. Internet yang sudah teragregasi menjadi menjadi ribuan bahkan jutaan komunitas umat manusia melalui situs-situs seperti Friendster, YouTube, Facebook, MySpace, Secon Life, atau Blogger memunculkan potensi luar biasa untuk membentuk komunitas konsumen yang tak pernah terbayangkan dalam sejarah umat manusia.

Manifesto #2:

Your Customers Are EVANGELIST. They Are Your Voluntary Sales Force. Ketika Anda memiliki komunitas pelanggan yang solid, maka Anda punya potensi besar untuk menjadikan pelanggan tersebut sebagai “evangelist” atau “advocator” yang ngomomg bagus tentang produk Anda. Mereka sekaligus menjadi selesman tertangguh Anda.

Manifesto #3:

Your Core Competence Is CONNECTING Your Customers. Ketika formula E = wMC2 bisa Anda wujudkan, Anda akan sadar bahwa keunggulan kompetitif akan ditentukan oleh kemampuan Anda dalam menghubungkan satu pelanggan dengan pelanggan lain di dalam sebuah media komunitas.

Manifesto #4:

Treat Your Customer as MEMBER. Find Their Collective Identity, Purpose, and Passion. Apapun bisnis Anda, satu menjadi prinsip dasar dalam menjalankan bisnia, yaitu bahwa Anda harus menganggap pelanggan adalah “anggota” komunitas yang Anda bangun.  Bedanya “pelanggan” dengan “anggota” adalah, kalau anggota maka interaksi harus berlangsng sangat intensif baik interaksi antara perusahaan ke pelanggan, atau pelanggan ke pelanggan.

Manifesto #5:

Person Needs to Communicate Itself, and Express It’s Personal Aspirations. Market Become HUMAN. Kemunculan Web 2.0 tools seperti blog, tags, wikis, RSS, dig, coComment, atau internet messenger (IM) mendorong orang kini semakin mudah dan ingin mengekspresikan diri. Makanya kini semakin banyak pribadi-pribadi narsis yang ingin mengungkapkan aspirasi personalnya dengan menulis di blog, curhat dengan sesama teman di Friendster atau Yahoo Messenger, atau memajang foto-foto pribadi di Flickr. Karena kenyataan ini saya mengatakan, kalau Web 1.0 adalah “fenomena teknologi” (technology phenomenon), maka web 2.0 adalah “fenomena kemanusiaan” (human phenomenon). Kenapa? Karena web 2.0 memungkinkan kita berinteraksi, berkomunikasi, berbagi, dan mengekspresikan diri. Market become human.

Manifesto #6:

FACILITATING Is Your “Reason for Being”. Kalau Anda menganggap bahwa bisnis Anda dibangun di tengah-tengah komunitas pelanggan, maka tugas pokok dan alasan keberadaan Anda adalah memfasilitasi pelanggan-pelanggan Anda.

Manifesto #7:

AUTHENTICITY Is Your Lifetime Differentiator. Di tengah persaingan yang ketat saat ini, otentisitas menjadi barang yang kian langka. Namun begitu pelanggan melihat bahwa brand Anda otentik maka otentisitas tersebut akan menjadi diferensiator yang tak bakal lekang ditelan jaman. Harley-Davidson, A Mild, Starbuck, Iwan Fals atau Slank, adalah brand-brand yang otentik, sehingga mereka sustainable.

Manifesto #8:

Your Brand Is a CULT. Create Ideology around It and Spread to Your Believers. Kalau Anda punya komunitas pelanggan yang solid, maka besar kemungkinan Anda mampu menciptakan “cult brand”. Komunitas pelanggan tersebut menjadi semaca “sekte” di mana brand Anda menjadi “roh”-nya.

Manifesto #9:

Your Products and Services Should be CONTAGIOUS. Produk Anda haruslah punya “bakat” untuk diperbincangkan pelanggan karena sisi unik yang dimilikinya. iPhone, Anthurium, Harry Potter, YouTube, adalah segelintir merek yang punya bakat dibicarakan.

Manifesto #10:

Trust Is the Real Currency. Join the Honest CONVERSATION!!! “Market is conversation”, Anda tidak bisa menolak jika para blogger memperbincangkan dan mengaduk-aduk isi perusahaan Anda. Yang bisa Anda lakukan hanya ikutan nimbrung dan berdialog secara jujur dan transparan.

Manifesto #11:

Engage Your Most Passionate Customers to CO-CREATE Solutions. Pelanggan yang Anda bina dalam komunitas adalah sumber ide produk yang tak ada habisnya. Karena itu beraliensi lah dengan pelanggan dalam menciptakan dan mengembangkan produk-produk Anda.

Comments Off


Yuswohady

www.wartaekonomi.co.id
Minggu lalu saya bertemu Mas Iim Rusyamsi, Rosihan, dan Mbak Inez. Ketiganya dari komunitas Tangan Di Atas (TDA). Lama ngobrol dengan mereka, banyak pelajaran yang saya dapat. Cerita mereka mengenai bagaimana TDA “beroperasi” membuat saya takjub. Takjub, karena model komunitas yang saya bayangkan selama ini, yaitu apa yang saya sebut “value-creating community”, berlangsung dalam format [...]

Lebih lanjut »

Sebelumnya :


Advertise Here
Advertise Here
Advertise Here