Archive | Resensi

Bridging The Gap of Performance

Posted on 21 February 2010 by admin

bridging_the_gap

Judul Buku : Bridging The Gap of Performance
Pengarang  : Hendrik Lim, MBA
Penerbit   : PT. Elexmedia Komputindo

Sebuah Cermin yang jernih bagi pembaca untuk melihat diri

Membaca buku tulisan Hendrik Lim yang berjudul Bridging the Gap of Performance ini  seperti sedang bercermin di depan cermin yang sangat lebar dan jernih. Apalagi jika kita membaca sambil membayangkan situasi yang sedang diri kita  sendiri hadapi atau secara umum yang dihadapi orang saat mengalami stagnasi karier, bisnis atau pribadi bagai membentur tembok. Uniknya bukan hanya masalah bisnis, dan karier buku ini sangat cocok untuk persoalan utama nilai nilai kehidupan termasuk pengembangan pribadi. Kadang tidak sengaja saya tersenyum,  kadang membenarkan atau mentertawakan ilustrasi lewat gambar lucu yang dipaparkan penulis. Gaya tulisan yang populer dan campur aduk dengan istilah istilah bahasa inggris menambah kerenyahan buku ini untuk dibaca dan membuat terus tertarik membaca sampai selesai. Padahal ada banyak buku yang antri untuk saya baca.

Kenapa seperti bercermin?

Menghadapi masalah yang sama terus menerus dan hampir tidak tahu jalan keluarnya yang disitilahkan oleh penulis membentur tembok adalah pengalaman banyak orang. Jika kita menghadapi masalah ini dan tidak ada jalan keluar, selanjutnya gampang sekali kita menarik kesimpulan diri sendiri berdasarkan fakta fakta tersebut bahwa kita memang ditentukan untuk gagal. Mulai menyalahkan diri dan semakin mengalami kehilangan kepercayaan diri. Inilah yang secara cerdik penulis sedang menawarkan apa yang sedang dibutuhkan oleh pembacanya. Sesuatu yang menjadi rahasia sukses tokoh tokoh yang penulis ceritakan dibuku 201 halaman ini, yaitu rahasia kesuksesan adalah tidak focus pada diri tetapi menjawab kebutuhan orang.

Hendrik Lim mampu secara jeli menawarkan solusi tanpa mengurui, sehingga pembaca tidak diberikan satu jalan keluar tetapi diberikan pilihan sekaligus dengan akibat yang ditimbulkan dari setiap pilihan tersebut.  Sebuah solusi yang sangat baik adalah dengan merubah sudut pandang atau point of view keluar, berhenti sesaat dan secara jernih dalam melihat masalah . Sebenarnya memang tidak ada kalau kita tenang dalam menanggapi sesuatu tidak ada good news atau bad news, yang ada hanyalah news, karena semua tergantung sudut pandangnya.  Sesuatu yang buruk bisa menjadi baik atau sebaliknya tergantung sudut pandang kita.

Menantang untuk berubah

Penulis mampu mengungkapkan sebuah keadaan yang acapkali membuat kita membuang waktu berlama lama atau jalan ditempat tanpa sadar sering kita alami. Misalnya kita merasa punya pengalaman puluhan tahun, tetapi sesungguhnya bisa jadi hanya pengalaman satu tahun yang diulang ulang sepuluh kali. Akibatnya bukan  hanya memboroskan waktu tetapi kita hanya melakukan hal yang sama bertahun tahun dan berharap hasil yang lebih baik, menurut penulis jika kita melakukan hal yang sama tetapi berharap hasil yang lebih baik namanya adalah orang gila definisi baru. Intinya pembaca ditantang untuk berani melakukan hal hal baru yang bisa menghasilkan terobosan baru.

Secara lugas buku ini juga menawarkan tantangan kepada pembaca untuk mengalami terobosan dengan  cara cara yang sangat kreatif dan membuat kita dibukakan dengan sebuah pengertian yang baru. Namun tidak tergesa gesa apalagi dengan cara instan sebaiknya dengan mengambil waktu untuk melakukan perenungan dan kontemplasi.  Sesuatu yang baik tidak pernah datang dengan sendirinya mesti diupayakan, dicari, diketuk, diminta. Karena yang mencari akan mendapatkan , yang mengetuk pintu akan dibukanan dan yang meminta akan diberikan.  Inilah yang menarik dari buku Hendik Lim ini, karena semua ide dan terobosan yang ditawarkan bisa di implementasikan.
Bagi perseorangan atau pribadi buku ini memiliki dampak yang sangat kuat pada pembacanya apalagi jika membacanya hingga tuntas. Hampir semua hal yang ditawarkan sangat menantang untuk melakukan dan mengevaluasinya hingga mengalami apa yang disebut terobosan.  Demikian juga dengan contoh contoh kasus yang dipilih sangat membumi dan real seperti yang dihadapi oleh kebanyakan orang yang sedang membentur tembok dalam karier maupun bisnisnya.

Meski buku ini sangat kuat dalam mengiring pembaca untuk menikmati setiap halaman dari ide dan cerita yang ditawarkan penulis tetapi buku ini lebih banyak menyentuh area pribadi.  Sayangnya penulis kurang banyak mengupas keuntungan dari korporasi yang para eksekutif dan managernya mengalami terobosan.  Padahal jika hal ini digali maka buku ini bisa menjadi buku pegangan yang sangat  baik bukan hanya untuk pribadi yang mau terus berkembang tetapi juga untuk sebuah korporasi.

Namun demikian buku ini akan memberikan manfaat yang sangat besar bagi korporasi jika semua individu mengalami terobosan terobosan dalam area area yang selama ini terus berkutat dan tidak bergerak maju. Ini artinya buku ini menjadi buku yang juga bernilai bagi korporasi yang sedang mengalami jalan buntu, maupun yang sedang bergerak pelan. Mereka yang mengalami jalan buntu mendapat isnpiratif untuk berani melangkah dan mengalami terobosan baru dan bagi yang sedang maju secara pelan dan bergerak lebih cepat memimpin pasar tetap terus kreatif menemukan hal- hal baru dan terus melaju sebagai pemimpin pasar.

Sayangnya meski buku ini sangat bisa diaplikasikan dan memberikan ide ide kreatif maupun terobosan saat menghadapi persoalan, kemasan buku ini  terkesan sederhana. Selain kualitas kertas agak buram juga judulnya masih sulit dicerna ketika melihat buku ini ada di toko  buku, judulnya tidak langsung menarik perhatian untuk dibuka. Termasuk sub judul yang ditulis dengan warna merah dan latar belaikang warna hitam agak sulit dibaca. Meski demikian semua kekurangan tadi menjadi sirna ketika kita mulai menikmati halaman demi halaman yang ditulis dengan values kehidupan yang sangat berbobot.

Jadi buku ini bisa menjadi sahabat baik bagi mereka yang tidak puas dengan keadaanya sekarang, sedang mengalami masalah terus menerus dan tidak tahu jalan keluarnya seperti membentur tembok dan menemukan rahasia yang selama ini tersembunyi yang sebenarnya sudah ada tetapi belum dilihat dan di ekplorasi oleh kita.

Selamat bercermin, selamat mengalami terobosan.
Kota  Jababeka, 30 Januari 2010

M. Mahayoni, MH
Vice Dean Faculty of Communication, President University
Email: mahayoni@president.ac.id

Comments (0)

7 Cara Tidak Gila Jadi Pengusaha

Posted on 02 May 2009 by admin

7-cara-tidak-gila2

Judul Buku : 7 Cara Tidak Gila Jadi Pengusaha
Pengarang  : Bambang Suharno
Penerbit : Bangkit Publishing

Begawan entrepreneur, pemilik usaha Kemchicks Supermarket, Bob Sadino dikatakan “Gila” manakala menyampaikan cara berpikirnya, bagaimana bersikap dan bertindak untuk menjadi entrepreneur sejati pada berbagai kesempatan, baik wawancara ataupun seminar.

Adapula entrepreneur senior yang mengarang buku “Cara Gila menjadi pengusaha” yakni Purdi E Chandra, pemilik usaha Primagama dengan konsep BODOL (Berani Optimis Duit Orang Lain), BOTOL (Berani Optimis Tenaga Orang Lain) dan BOBOL (Berani Optimis Bisnis Orang Lain).

Kali ini resensi buku Mastermind TDA Jaksel mengulas buku “7 Cara Tidak Gila Jadi Pengusaha” karangan Bambang Suharno, pendiri dan Direktur Indonesian Entrepreneur Society (IES) yang juga pendiri PT Gallus Indonesia Utama.

Buku ini menyampaikan bahwa tidak semua orang mau dan bisa segila para entrepreneur yang bisa melakukan aksi-aksi gila saat memulai usahanya. Gila, nekat dan berani pasti bukan hal yang mudah bagi kebanyakan orang, apalagi bagi karyawan yang sudah berkeluarga. Menjadi Gila dan nekad bukanlah satu-satunya cara untuk menjadi seorang entrepreneur sukses.

Ada 5 mitos mengenai entrepreneur yang dibahas :

1. Entrepreneur terlahir, bukan dibentuk oleh lingkungan. Padahal sesungguhnya kesuksesan dalam bisnis tidak dipengaruhi ras atau bakat bawaan lahir, tetapi karena faktor didikan, persepsi dan lingkungan yang membentuknya

2. Bisnis semata-mata demi mengejar uang agar menjadi kaya raya. Padahal uang bukanlah tujuan bisnis, melainkan, uang adalah reward atas jerih payah dan ketekunan berusaha.

3. Berani mengambil jalan pintas dan tidak patut. Padahal kesuksesan dibangun atas dasar manfaat yang kita berikan bukan jalan pintas yang memberikan keuntungan sesaat

4. Sukses membutuhkan kenekatan, padahal berani mengambil risiko bukan berarti nekat tanpa perhitungan , tetapi didorong intuisi berdasarkan pengalaman sebelumnya.

5. Pengusaha merongrong harta kekayaan negara, padahal cara yang jelek akan menghasilkan sesuatu yang jelek, cara baik akan menghasilkan sesuatu yang baik. Jadi di dunia manapun ada yang menggunakan cara yang jelek dan cara yang baik, tergantung dari orangnya, apapun profesinya.

Adapun mental utama yang dibutuhkan untuk menjadi entrepreneur sukses adalah mental uang produktif, mental pemberdaya dan mental tangan di atas. Bambang Suharno mengingatkan bahwa kegiatan bisnis adalah kegiatan spiritual karena berbisnis tidak melulu mengenai materi, melainkan juga mengenai seberapa banyak manfaat bagi banyak orang.

Anda ingin tau bocoran 7 Jurus Tidak Gila Menjadi Pengusaha itu? Inilah caranya :

Jurus 1 : Bersedekah

Jurus 2 : Menabung

Jurus 3 : Carilah Peluang Usaha

Jurus 4 : Carilah Mitra Kerja

Jurus 5 : Kembangkan Usaha

Jurus 6 : Ikhlas Menerima Hasil

Jurus 7 : Bergaul dengan entrepreneur, menjadi anggota komunitas

Penjelasan ketujuh jurus itu dalam buku dengan 137 halaman ini sangat mudah dicerna, dengan gaya bahasa seorang jurnalis kawakan.

Buku ini membuat kita sadar bahwa menjadi entrepreneur masih bisa dilakukan dengan cara waras. Tidak ada rumus atau formula pasti untuk menjadi entrepreneur sukses, semuanya tergantung dari masing-masing individu. Ada yang cocok dengan cara gila, ada pula yang berhasil dengan cara waras. Apapun pilihan Anda, yang terpenting adalah tindakan nyata, karena berbisnis itu adalah dilakukan bukan direncanakan. Segeralah bertindak.

Keep Moving Forward Action

Tjarli Suhendra

www.pixethic.com

Comments (11)

Cerdas & Cerdik Mengelola Uang

Posted on 27 February 2009 by admin

cover-mengelola-keuangan

Judul Buku : Cerdas dan Cerdik Mengelola Uang

Pengarang : Sri Khurniatun, RFA

Penerbit : Transmedia

Buku ini akan dilauncing pada acara Milad 3 TDA di Gedung BPPT Jakarta.

Dapatkan buku karangan Sri Khurniatun, member Mastermind TDA Jakarta Selatan segera.

Comments (0)

Raise You Up - A Change - Leadership into Yourself

Posted on 24 February 2009 by admin

raise_you_up

Judul Buku : Raise You Up - A Change-Leadership into Yourself
Pengarang  : Hendrik Lim, M.B.A.
Penerbit : Elex Media Komputindo

Siapa bilang itik buruk rupa tidak bisa berubah menjadi angsa yang cantik. Semua yang dibutuhkan untuk perubahan itu sebenarnya sudah ada dalam diri itik. Yang penting, maukah dia menggali potensinya agar bisa terbang tinggi?

Ah, sudahlah, mungkin ini nasib saya. Heran, apa yang salah dengan diriku? Mengapa kerja keras yang kulakukan selama ini sama sekali tidak membuahkan hasil? Apa saya kurang rajin? Atau, kurang kerja keras? Beruntung sekali dia, hanya dalam waktu singkat sudah menikmati promosi jabatan. Wah, gak adil nih!

Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang biasanya berkecamuk dalam benak seseorang yang merasa kerja kerasnya sia-sia. Sedangkan, dia melihat, orang lain demikian mudah menikmati kesuksesan. Apa sebenarnya yang mereka miliki dan tidak dimiliki oleh kita? Apakah mereka lebih pintar atau lebih berkomitmen? Lebih obsesif? Lebih sabar? Lebih banyak berdoa? Atau, mereka hanya lebih hoki dari kita? Dalam bukunya berjudul Raise You Up: Discover and Shaping a Change-Leadership into Yourself, Hendrik Lim mengungkapkan bahwa hoki atau keberuntungan dapat menjadi cara yang ampuh untuk menerima keberhasilan orang lain yang tidak kita sukai. Sebab, hoki atau keberuntungan boleh dibilang merupakan semacam fakta takdir yang tidak ada akar persamaannya, sehingga tidak dapat dicari variabelnya. Daripada mengkambinghitamkan keberuntungan, sebaiknya, kita mencari faktor-faktor yang dapat mebuat kita lebih baik dari orang lain. Kualitas dan ciri khusus apa saja yang harus kita miliki? Itulah topik yang dibahas dalam buku ini. Hendrik Lim mengajak pembaca meninggalkan sejenak rutinitas sehari-hari dan menyelami diri kita lebih dalam.

Mengkaji setiap potensi yang kita miliki dan mengoptinialkannya untuk kehidupan yang lebih baik. Hendrik juga mengungkapkan perumpamaan yang unik. Seseorang yang tidak memiliki banyak potensi, tapi tidak menyadarinya atau punya potensi, tapi tidak pernah menggunakannya secara optinial, bisa diibaratkan mati dalam keadaan miskin karena kekayaan deposito yang dimilikinya tidak dicairkan. Alangkah menyedihkan! Karena itu, Hendrik ingin menyingkapkan tabir mengenai seseorang yang percaya bahwa dirinya bisa jauh lebih besar dari yang ia sangka. Dengan demikian, sumber daya dalam dirinya tidak mubazir, tapi justru dapat dinianfaatkan dalam kehidupan, sehingga menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Dengan membaca buku ini, kita bisa mencapai dan terbang ke tempat yang lebih tinggi bak rajawali.

Buku Raise You Up: Discover and Shaping a Change-Leadership into Yourself ini berisi diskusi-diskusi, pemaparan, studi kasus, dan macro views yang akan membuka esensi karakteristik dan tabir misteri yang sebenarnya dimiliki orang-orang yang telah berhasil menapaki tangga kehidupan. Alhasil, mereka bisa menikmati banyak hal yang ditawarkan kehidupan.

Secara singkat, isi buku ini dipilah dalam enam bagian. Pada bagian pertama, Hendrik mengajak pembaca mengidentifikasi keunikan yang dimiliki orang-orang yang berhasil dalam karier dan kehidupan pribadi. “dengan mengetahui keunikan mereka, kita lantas bisa mengidentifikasinya dalam diri kita, sehingga kita bisa keluar dari kerumunan orang rata-rata. Bagian ini saya namakan fase know what,” ujar Hendrik dalam bukunya tersebut. Hendrik mencontohkan, di dunia asuransi, umumnya, hanya sekitar dua orang dari 100 “peserta lomba” (agen asuransi) yang sampai garis finish. Sisanya berguguran di tengah jalan.  Tren semacam itu juga berlaku di bidang apapun dalam kehidupan, baik penyanyi, pemain sepak bola, pencipta musik, ahli komputer, dokter, pengacara, arsitek, maupun pengusaha. Hanya dua orang dari 100 orang yang berhasil survive. Bukankah angka perbandingannya sangat kecil? Karena itu, kita harus mampu mengidentifikasi apa saja kualitas yang dibutuhkan untuk keluar dari kerumunan orang rata-rata.

Kedua, fase know how. Bagian ini mendiskusikan bagainiana supaya kita bisa keluar dari kerumunan orang rata-rata dan dapat menikmati sebuah kesuksesan. Menurut Hendrik, sebagai langkah awal, kita harus melakukan akselerasi atau perubahan. Lantas, membuat strategi agar perubahan itu dapat menjadikan kita sebagai pemenang (strategy accelarate to win).

Ketiga, fase know why. Dalam bagian upaya mereka dalam mengejar impian dan tujuan hidup.

Keempat, fase know who. Bagian ini akan mengajak kita melihat lebih jauh tentang tipe atau jenis orang yang yang memiliki kemampuan, sehingga mampu terbang lebih tinggi dari sebelumnya. Hendrik memaparkan, kualitas yang dimiliki anggota kelompok yang tergolong di atas rata-rata ini adalah karakter dan profesionalisme yang melandasi kinerja mereka.

Setelah mengetahui perihal know what, know how, know why, dan know who, yang lebih penting lagi adalah mentransformasikan hal-hal teknis dan strategi yang sudah diketahui agar dapat dipraktikkan, sehingga menjadi kenyataan. Hendrik menyebutnya sebagai fase what does it take-harga yang harus dibayar untuk mendapatkan semua itu, impian dan tujuan dalam hidup.

Terakhir, fase the life beyond yourself. Hendrik mengemukakan bahwa setelah melalui keLima fase tadi, hidup kita tidak akan pernah sama lagi. Sebetulnya, yang diperlukan seseorang untuk terbang lebih tinggi hanyalah menggenggam nyali dan mengepakkan sayap. Tapi, kita juga harus siap mengeluarkan keringat, tenaga, dan juga pikiran karena perjalanan ini tidak akan mudah.

Buku ini memang diperuntukkan bagi orang-orang yang punya semangat untuk berubah dari itik buruk rupa menjadi angsa yang cantik. Dengan bahasa yang mudah dicerna dan komunikatif, didukung gambar-gambar yang ilustratif dan menyegarkan, tak ada ruginya menyelami buku karya Hendrik Lim tersebut. Karena, kita sendiri yang akan merasakan manfaatnya, yaitu membangkitkan motivasi.

Comments (9)


Yuswohady

www.wartaekonomi.co.id
Minggu lalu saya bertemu Mas Iim Rusyamsi, Rosihan, dan Mbak Inez. Ketiganya dari komunitas Tangan Di Atas (TDA). Lama ngobrol dengan mereka, banyak pelajaran yang saya dapat. Cerita mereka mengenai bagaimana TDA “beroperasi” membuat saya takjub. Takjub, karena model komunitas yang saya bayangkan selama ini, yaitu apa yang saya sebut “value-creating community”, berlangsung dalam format [...]

Lebih lanjut »

Sebelumnya :


Advertise Here
Advertise Here
Advertise Here